Dalam buku Percakapan paling panjang perihal pulang pergi, terdapat kumpulan puisi karya Theoresia Rumthe & Weslly Johannes yang di dalamnya terdapat konsep saling berbalas puisi, dan bahasa yang digunakan sederhana, tidak rumit.
Kata-kata kami adalah hujan yang rintik dan rinainya menjalari batin dan menyemangati kami, untuk terus hidup dan berjuang menjaga nilai kemanusiaan, berpikir sederhana dan bertanggungjawab pada kebudayaan yang konstruktif.
Apalagi urusan perasaan Cinta bisa berganti benci Percaya memudar berganti kusam ragu Pun komitmen menipis berubah jadi lupa Kau boleh pergi Sungguh boleh Tapi aku akan tetap di sini Meyakini bahwa Besok pagi, malam pun akan berganti siang Mawar baru akan merekah ulang Dan hujan berikutnya pasti kan datang Kau sungguh boleh pergi. Salah satu sajak yang ada di dalam buku Sun…
"Walaupun manuskrip ini menceritakan sebuah tragedi, kisah-kisahnya disampaikan dengan nada ringan, nyaris komikal (bahkan ada beberapa pastiche ala puisi mbeling), yang justru membuat ceritanya makin tragis. Pemakaian ironi yang mantap! Selain itu, penulis juga menunjukkan kepiawaiannya mencampur aduk berbagai macam referensi, alusi, dan gaya. Dari yang kuno sampai yang kekinian, dari high cul…
Ke paku belakang pintu aku gantungkan apa yang patut aku gantungkan aku kembalikan apa yang seharusnya aku kembalikan Bayangan gajah mini dari rotan patahan sepeda plastik roda tiga kibaran baju terjepit daun jendela. Kita selalu punya malam penuh batuk dingin malaria hari-hari disulam dari mala.
Mari kita buka apa isi kaleng Khong Guan ini: biskuit peyek keripik ampiang atau rengginang? Simsalabim. Buka! Isinya ternyata ponsel kartu ATM tiket voucer obat jimat dan kepingan-kepingan rindu yang sudah membatu.
SEUSAI PELUKAN USAI pada pertemuan yang aneh, kulihat duri di sekujur tubuhmu. kudekati dan memelukmu. seusai pelukan itu usai, duri-duri itu menancap di tubuhku hingga hari ini. Okt, 2022 (salah satu puisi dalam "Bertemu di Temaram"